Posts

(Nggak) Penting Mikirin Soal Jodoh

Masih ingat beberapa tahun lalu ketika saya hadir dalam seminar LDS (Love, Dating, and Sex). Kebetulan yang membawakan adalah seorang kakak dari persekutuan alumni. Ia bertanya, "Siapa disini yang sudah membaca buku soal PHDT (pasangan hidup dalam Tuhan)?" Dengan sedikit malu-malu, ada beberapa orang yang angkat tangan. Pertanyaan berikutnya muncul, "Ada yang sudah baca buku tentang PHDT lebih dari 2 buku?" Semakin sedikit yang mengangkat tangan.

Ngobrol soal jodoh menjadi sesuatu yang penting, nggak penting. Gairah untuk berdiskusi soal jodoh menjadi menarik jika bersama teman-teman, atau ketika ada laki-laki atau perempuan yang sedang ditaksir, atau merasa sedang didekati oleh seseorang. Namun, menjadi tidak ada jiwanya ketika berbicara dengan orang tua, atau orang yang lebih tua, persekutuan, bahkan mungkin juga dengan gereja.

Semakin usia bertambah, mau tidak mau obrolan tentang pasangan hidup atau jodoh menjadi terus muncul, terlebih lagi jika belum mendapat pa…

Looking for Something

Image
But seek first the kingdom of God and his righteousness, and all these things will be added to you. (Matthew 6:33 ESV)
Everyone is looking for something to satisfy the desires of his heart. Some through money, fake love, free sex, fame, self-confession, justify untruth, etc. If all has been obtained, will we be completely satisfied? Is it by getting it all, we really maximize our life? Human was created by God for His glory and glorifies Him. If you want to feel satisfied, find and ask what God wants in our lives. Following what He desires often do not correspond to our expectations, but we feel satisfied and fairly in this life.

----- Jadi, usahakanlah dahulu supaya Allah memerintah atas hidupmu dan lakukanlah kehendak-Nya. Maka semua yang lain akan diberikan Allah juga kepadamu. (Matius 6:33 BIMK)
Setiap orang mencari sesuatu untuk memuaskan keinginan hatinya. Ada yang melalui uang, cinta yang semu, seks bebas, ketenaran, pengakuan diri, pembenaran atas ketidak-benaran, dll. Jika semua …

Nggak Ada Bakat Masuk Surga

Masih teringat beberapa bulan lalu, seruan dan teriakan karena issue SARA dilemparkan membuat beberapa kelompok menjadi bergidik. Mulai dari demo yang berjilid-jilid, perang antar status, bertengkar di komentar sosial media, beberapa spanduk dan pamflet semua terpapar mempromosikan "surga" sebagai kendaraan politik, walaupun juga memiliki nilai keagamaan itu tersendiri. Saya tidak ingin mengomentari salah satu agama, urusan keyakinan mari dikembalikan kepada setiap pribadi kepada Sang Khalik, walaupun begitu setiap keyakinan bahkan yang Atheis dan Agnostic pun seperti memiliki daya ekspansi untuk menghimpun pengikutnya.
Berbicara tentang surga, suatu pertanyaan dan pernyataan dalam benak saya. Siapa sih umat yang percaya tentang keberadaan Tuhan, tidak ingin masuk surga? Pasti mau masuk surga, tapi apakah kita akan masuk surga. Jika pertanyaan dan pernyataan tersebut dibalas menjadi, "Mau masuk surga? Nggak ada bakat deh kayaknya untuk masuk surga. Nggak ada tampang bua…

Perjalanan dari Sebuah "Penantian"

Image
"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9 TB) Ayat ini kembali muncul dalam postingan saya di blog setelah memposting tentang rasa sukacita saya bermusik hingga ke Sydney. Postingan ini pun adalah ekspresi rasa syukur kepada Allah untuk satu hal yang menggembirakan bagi banyak orang yang sering dirundung kegalauan (dunia). Ia menentukan waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Ia memberi kita keinginan untuk mengetahui hari depan, tetapi kita tak sanggup mengerti perbuatan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkhotbah 3: 11 BIMK) Hidup adalah sebuah rahasia yang Tuhan simpan hingga waktunya tiba untuk dibukakan. Rahasia demi rahasia Ilahi selalu diminati oleh setiap insan untuk mengetahui hari depan, tapi itulah seninya dan indahnya perjalanan beserta kejutan-kejutan di dalamnya. Kegalauan setiap remaja dan para de…

Refleksi, Evaluasi, Resolusi: 2016 ke 2017

Tahun berganti dan semua orang membuat resolusi. Ada yang tertulis di jurnal masing-masing, ditempel di kamar, upload ke sosial media cerita ke orang lain. Rasanya hampir tidak mungkin jika orang-orang tidak membuat resolusi. Paling tidak, mereka punya satu harapan tentang apa yang akan disambut di tahun 2017. Jika waktu telah berlalu, lalu 2016 akan lewat begitu saja?

Untuk dapat memasuki 2017, harus melewati 2016. Untuk dapat beresolusi di tahun 2017, harus meleati dan mengingat kembali tentang 2016. Evaluasi adalah hal yang sering dilakukan dalam setiap kepanitiaan dan organisasi tapi bisa jadi jarang dilakukan ke diri sendiri. Untuk apa resolusi jika tidak ada evaluasi. Saya tambahkan lagi, tidak hanya evaluasi tapi juga berefleksi.

Mengevaluasi dan berefleksi adalah sebuah sarana untuk melihat apa yang terjadi di belakang untuk menapaki masa depan. Terlihat seperti visioner sekali, melihat ke masa depan. Semua orang pasti ingin tahu masa depannya, tapi mereka tidak pernah tahu sa…

Tidak ada yang Sempurna Termasuk dalam Gereja

Nobody's perfect. Ini adalah satu kutipan yang biasa kita dengar. Tidak ada orang sempurna dan sepenuhnya benar. Semua punya cacat dan cela. Sebaik-baiknya manusia, dia tidak sempurna. Kutipan ini dapat menjadi pemakluman atau juga bisa jadi hal yang paling memuakkan.
Saya lahir dari keluarga yang mengenal "persekutuan dan pelayanan" gerejawi (gereja bukan berarti selalu instansi dan gedung). Sebelum lebih lanjut, gereja yang saya maksud dalam tulisan ini adalah dunia persekutuan baik dibawah gereja, kampus, kantor, lembaga pelayanan, ataupun persekutuan independen yang memiliki kesamaan iman kepada Kristus. Paduan suara, sekolah minggu, pelayanan remaja, persekutuan doa, bukanlah hal yang asing untuk saya. Pernah pula saya dikira anak pendeta oleh teman-teman saya. Namun, itu semua terkadang membuat saya muak dengan hal-hal gerejawi. Saya ulangi, terkadang. Ketika persaan itu mulai datang, saya kembali teringat "Nobody's perfect". Orang-orang yang ada dala…

Jihad Selfie: Kegalauan Remaja dan Pentingnya Keluarga

Image
Baru kemarin saya menonton film dokumenter Jihad Selfie di Kineforum. Ini adalah pertama kalinya saya menonton di Kineforum dengan penonton yang cukup banyak. Saya sudah sampai di TIM (Taman Ismail Marzuki) pada pukul 17.00 dari Kampus UI Depok. Pada awalnya saya tidak mau langsung ke Kineforum karena loket baru dibuka satu jam sebelum film dimulai dan film diputar pukul 19.30, tapi pesan singkat dari seorang teman membuat kaki saya melangkah ke bioskop komunitas tersebut.

Antrian sekitar 20 orang sudah terjadi untuk menonton Jihad Selfie. Lima menit kemudian, sudah ada 10 orang yang mengantri di belakang saya. Kalau begini ceritanya, tidak mungkin saya pergi-pergi untuk cemal-cemil atau sekedar melanjutkan mengetik catatan lapangan di lingkungan Taman Ismail Marzuki. Animo masyarakat cukup besar juga. Penonton didominasi para ibu-ibu setengah baya yang kemungkinan memiliki anak pra remaja atau remaja. Mungkin mereka penasaran dengan konten filmnya dan menjadikan suatu pembelajaran u…